Menyusuri jalur yang penuh dengan lumut dan embun
Seperti menyusuri hidup yang pernah tercecer.
Langitnya tidak selalu biru, tapi justru dalam kabutnya -
Disanalah kutemukan ketenangan.
Dalam kedinginan yang menyelimuti, ada kehangatan yang tidak pernah kutemui dipelukan siapapun.
Senandung dedaunan, semilir angin, seperti bahasa alam
yang hanya bisa dimengerti oleh jiwa yang lelah.
Tidak semua puncak harus ditaklukkan
Ada yang cukup dipandang dari kejauhan.
Seperti langit yang membuat dirinya ingin terbang bebas
Kamu cukup menatapnya saja dari bumi ini.
Langkah menanjak itu bukan menuju puncak,
melainkan menuju dirimu sendiri.
Sebab disetiap tanjakan, ada ego yang patah.
Dan dalam hening, ada rindu yang tidak bisa kusuarakan.
Dan ketika kau kembali,
bukan ketinggian yang kau bawa
melainkan kesadaran bahwa melupakan adalah cara paling bijak untuk menjadi utuh.
Komentar
Posting Komentar