Ia adalah bintang yang menyalakan duniamu, hembusan angin yang membuka jendela barumu. Seperti pustaka tak bernama, menunjukkan hal yang tak pernah kau duga. Namun kau menaruhnya di sudut sepi, seperti cermin retak yang tak kau peduli. Kata-katanya kau larutkan menjadi abu, lalu kau abaikan tanpa ragu. Ia tetap berdiri di tepi luka, meski hatinya diiris berulang tanpa jeda. Seperti jam pasir yang tak berhenti, menampung sakit, menahan sunyi. Dan di balik perih yang terus mengalir, ia tetap menyimpan harapan kecil yang tak pernah berakhir. Kau tak sadar, dialah yang pertama membuka pintu, namun kau selalu menjadikannya tamu yang semu.
Di rumah itu, kenangan menjelma menjadi bayangan, menyelimuti tubuhku dengan janji yang rapuh. Sejak kanak, punggung kalian adalah horizon yang jauh, terus menghilang, mengejar langit yang tak pernah pulang. Aku tumbuh di lorong pintu yang muram, seperti kalender disudut yang menanti hari itu kembali. Namun yang kembali hanyalah gema pertengkaran suara yang mengikis dinding dan meruntuhkan harapan. Setiap kata, adalah belati. Setiap pandangan hanyalah jurang pemisah. Tak lagi menjadi teduh. Seperti sangkar yang mengurung mimpi. Dinding nya menyisakan hawa panas yang mematikan perlahan. Aku yang dahulu menunggu cahaya itu kembali. Kini hanya ingin pergi menjauh.