Langsung ke konten utama

Laut

Banyak dari kita yang terpesona dengan "keindahannya".
Iya "Laut" yang tenang.
Birunya air yang membuat "Damai"
Hangatnya senja yang "menyapa" 
Biota laut yang beraneka ragam dan juga,
Ramahnya "lambaian" daun kelapa

Banyak wisatawan yang terlena
Termasuk Dia.

 Mereka lupa, jika laut yang "tenang" pun bisa menjadi "murka". 
Gelombang abrasi, pasang surut, pergeseran lempeng bumi yang menjadi tsunami.
Kembali aktifnya gunung dasar laut yang semula mati.
Adanya "predator" yang mengintai kita tanpa disadari.

Seperti halnya laut, manusia pun sama.
Dibalik "putihnya" seseorang, pasti memiliki warna hitam dibaliknya.


Usia bukanlah tolak ukur kedewasaan seseorang, untuk dapat memanusiakan manusia. 
Diam bukan berarti tidak mengerti, diam buka berarti tidak memperhatikan, diam bukan berarti kosong. Diam bukan berarti tidak kecewa dan menerima keadaan yang salah.

Time will heal, time will tell
Ganbatte, 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Darananta

Ia adalah bintang yang menyalakan duniamu, hembusan angin yang membuka jendela barumu. Seperti pustaka tak bernama, menunjukkan hal yang tak pernah kau duga. Namun kau menaruhnya di sudut sepi, seperti cermin retak yang tak kau peduli. Kata-katanya kau larutkan menjadi abu, lalu kau abaikan tanpa ragu. Ia tetap berdiri di tepi luka, meski hatinya diiris berulang tanpa jeda. Seperti jam pasir yang tak berhenti, menampung sakit, menahan sunyi. Dan di balik perih yang terus mengalir, ia tetap menyimpan harapan kecil yang tak pernah berakhir. Kau tak sadar, dialah yang pertama membuka pintu, namun kau selalu menjadikannya tamu yang semu.

Pangrango

Menyusuri jalur yang penuh dengan lumut dan embun Seperti menyusuri hidup yang pernah tercecer. Langitnya tidak selalu biru, tapi justru dalam kabutnya - Disanalah kutemukan ketenangan. Dalam kedinginan yang menyelimuti, ada kehangatan yang tidak pernah kutemui dipelukan siapapun. Senandung dedaunan, semilir angin, seperti bahasa alam  yang hanya bisa dimengerti oleh jiwa yang lelah. Tidak semua puncak harus ditaklukkan Ada yang cukup dipandang dari kejauhan. Seperti langit yang membuat dirinya ingin terbang bebas Kamu cukup menatapnya saja dari bumi ini. Langkah menanjak itu bukan menuju puncak, melainkan menuju dirimu sendiri. Sebab disetiap tanjakan, ada ego yang patah. Dan dalam hening, ada rindu yang tidak bisa kusuarakan. Dan ketika kau kembali,  bukan ketinggian yang kau bawa melainkan kesadaran bahwa melupakan adalah cara paling bijak untuk menjadi utuh.

Moksa

Dalam perjalanan ini, Pada akhirnya pun tetap sendiri Mungkin karena aku terlalu berharap Dengan semua yang kutanam akan tumbuh pada akhirnya Namun, aku lupa Untuk tumbuh pun 'ada' teriknya mentari dan derasnya hujan Aku benci hujan, pun dengan sambarannya. Tapi aku suka pelangi setelahnya. Kini ku sadar Berhenti 'memberi' kepada mereka yang tidak menganggap'mu Berhenti melindungi mereka yang tidak tahu mengakui' kesalahannya Disaat mereka tahu 'kebenarannya' pun, tak ada satu pun yang memihakmu. Tidak ada kata 'maaf' pun terucap dari mereka. Berhenti peduli untuk semuanya, karena semuanya hanyalah titipan Nya. Pada akhirnya kamu pun terus sendiri sedari awal hingga akhir. Selamat tinggal untuk episode 'kelam' ini Di setiap bait ku ingin tenang MeiKata, June 2025