Di rumah itu, kenangan menjelma menjadi bayangan,
menyelimuti tubuhku dengan janji yang rapuh.
Sejak kanak, punggung kalian adalah horizon yang jauh,
terus menghilang, mengejar langit yang tak pernah pulang.
Aku tumbuh di lorong pintu yang muram,
seperti kalender disudut yang menanti hari itu kembali.
Namun yang kembali hanyalah gema pertengkaran
suara yang mengikis dinding dan meruntuhkan harapan.
Setiap kata, adalah belati.
Setiap pandangan hanyalah jurang pemisah.
Tak lagi menjadi teduh.
Seperti sangkar yang mengurung mimpi.
Dinding nya menyisakan hawa panas yang mematikan perlahan.
Aku yang dahulu menunggu cahaya itu kembali.
Kini hanya ingin pergi menjauh.
Komentar
Posting Komentar