Ia adalah bintang yang menyalakan duniamu,
hembusan angin yang membuka jendela barumu.
Seperti pustaka tak bernama,
menunjukkan hal yang tak pernah kau duga.
Namun kau menaruhnya di sudut sepi,
seperti cermin retak yang tak kau peduli.
Kata-katanya kau larutkan menjadi abu,
lalu kau abaikan tanpa ragu.
Ia tetap berdiri di tepi luka,
meski hatinya diiris berulang tanpa jeda.
Seperti jam pasir yang tak berhenti,
menampung sakit, menahan sunyi.
Dan di balik perih yang terus mengalir,
ia tetap menyimpan harapan kecil yang tak pernah berakhir.
Kau tak sadar, dialah yang pertama membuka pintu,
namun kau selalu menjadikannya tamu yang semu.
Komentar
Posting Komentar