Langsung ke konten utama

Darananta

Ia adalah bintang yang menyalakan duniamu,
hembusan angin yang membuka jendela barumu.
Seperti pustaka tak bernama,
menunjukkan hal yang tak pernah kau duga.

Namun kau menaruhnya di sudut sepi,
seperti cermin retak yang tak kau peduli.
Kata-katanya kau larutkan menjadi abu,
lalu kau abaikan tanpa ragu.

Ia tetap berdiri di tepi luka,
meski hatinya diiris berulang tanpa jeda.
Seperti jam pasir yang tak berhenti,
menampung sakit, menahan sunyi.

Dan di balik perih yang terus mengalir,
ia tetap menyimpan harapan kecil yang tak pernah berakhir.
Kau tak sadar, dialah yang pertama membuka pintu,
namun kau selalu menjadikannya tamu yang semu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dermaga

Di rumah itu, kenangan menjelma menjadi bayangan, menyelimuti tubuhku dengan janji yang rapuh. Sejak kanak, punggung kalian adalah horizon yang jauh, terus menghilang, mengejar langit yang tak pernah pulang. Aku tumbuh di lorong pintu yang muram, seperti kalender disudut yang menanti hari itu kembali. Namun yang kembali hanyalah gema pertengkaran suara yang mengikis dinding dan meruntuhkan harapan. Setiap kata, adalah belati.  Setiap pandangan hanyalah jurang pemisah. Tak lagi menjadi teduh. Seperti sangkar yang mengurung mimpi. Dinding nya menyisakan hawa panas yang mematikan perlahan. Aku yang dahulu menunggu cahaya itu kembali. Kini hanya ingin pergi menjauh.

Pangrango

Menyusuri jalur yang penuh dengan lumut dan embun Seperti menyusuri hidup yang pernah tercecer. Langitnya tidak selalu biru, tapi justru dalam kabutnya - Disanalah kutemukan ketenangan. Dalam kedinginan yang menyelimuti, ada kehangatan yang tidak pernah kutemui dipelukan siapapun. Senandung dedaunan, semilir angin, seperti bahasa alam  yang hanya bisa dimengerti oleh jiwa yang lelah. Tidak semua puncak harus ditaklukkan Ada yang cukup dipandang dari kejauhan. Seperti langit yang membuat dirinya ingin terbang bebas Kamu cukup menatapnya saja dari bumi ini. Langkah menanjak itu bukan menuju puncak, melainkan menuju dirimu sendiri. Sebab disetiap tanjakan, ada ego yang patah. Dan dalam hening, ada rindu yang tidak bisa kusuarakan. Dan ketika kau kembali,  bukan ketinggian yang kau bawa melainkan kesadaran bahwa melupakan adalah cara paling bijak untuk menjadi utuh.